Terkadang niatan baik tak dipandang baik oleh pelakunya.. Ya Tuhan.. Aku tuh kasian sama anak kecil itu, dia bernama Dwi, lulusan SD tahun 2014 silam. Niat banget olehnya untuk melanjutkan Ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) , tapi pihak orang tuanya tak mengizinkan jika anak tersebut melanjutkan sekolah hanya karena takut bikin kakaknya ngiri yg lebih dahulu juga lulusan SD.
Menurutku hal itu hanya sebatas alibi dari pihak orang tua. Bagaimana tidak, kakaknya yang bernama Liswati, yang sekarang udah berumah tangga ingin juga membiayai Dwi untuk lanjut sekolah. Tetapi orang tuanya itu masih tetap bersikukuh untuk tetap tak menyekolahkannya.
Tidak hanya sampai disitu berjuang. Adek-adek di daerahku yang baru saja melakukan registrasi pendaftaran sudah saya kasih tahu buat coba melaporkan hal ini kepada guru" MTsN Ngraho. Dan berucaplah syukur bibir ini, kala melihat antusias Bapak Ibu guruku yang dulu untuk menangani hal ini. Akhirnya Pak Kasbi (Guru SKI jamanku dulu) mencoba ke rumahnya Dwi dan membicarakan akan hal itu dengan orang tuanya.
Dari sana pihak sekolah juga sudah memberi keringanan bahkan ada yang berminat untuk membiayai sekolah Dwi. Tetapi sayang beribu-ribu sayang, hati orang tua Dwi kaya terbuat dari batu. Mereka bener-bener gak ngizinin anaknya lanjut sekolah, hanya dengan alasan "pun pak, biarkan dwi merdamel. Madosi yotro". Helloooo....??? Anak sekecil ini disuruh bekerja di rumah tangga supaya uangnya bisa dinikmati orang tuanya.. MasyaAllah.. nyebut tenan bathin iki. Sungguh amat disayangkan sekali masa depan anak kecil ini.
Gregeett banget ini hati rasanya. Ingin sekali perbuatan orang tua ini aku laporkan ke komnas HAM. Tapi setelah aku mempertimbangkan dengan ortuku, katanya enggak usah. Tak usah mencari perkaya. Yauwes manut akune.
Tapi aku tak patah semangat, setiap Dwi main ke rumahku, entah hanya sekedar main-main saja atau aku minta tolong dia buat pijitin aku. Aku selalu selingi dengan menasehatinya. Aku bener-bener minta tolong ke dia buat ngambil hati orang tuanya. Buat bisa ngrayu dan entah apapun usaha dia supaya bisa kembali bersekolah.
Disayangkan sekali, dia itu tipe anak tertutup. Yang tak suka dengan berbagai nasehat yang sebetulnya untuk kepentingan dia. Nah dari situ, setiap aku pulang dari Jogja dianya udah tak lagi maen-maen ke rumahku. Dia gak mau lagi tak mintain tolong buat mijitin aku. Haduuuhh balik jogja untuk saat ini dan seterusnya akan selalu dengan pegel e badan.
Aku gak menyangka saja, dulu dia tak nasehati iya" saja. Gak pernah ada protes dsb. Ehh ternyata too dia gak suka dibilangin. Ngerti ngnu aku yo gk nasehati kamu dari awal nduk nduk.. wes sekarepmu wae...
Dan aku lumayan kecewa juga, mw ngangkat profilnya mbaknya yang menurutku juga menarik itu gak mau dianya. Yah mungkin mau menutupi kelakuan dari pada orang tuanya itu. Tapi ya setidaknya perbuatan orang tuanya ini perlu diluruskan biar gak berdampak pada adek"nya selanjutnya kalau dia mau punya anak lagi sih. Hehehe
Entahlah.. Suliitnya merubah pola pikir tetangga desaku yang masih menganggap "buat apa sekolah tinggi2 kalau ujung-ujungnya hanya menjadi buruh(pembantu)". Maka dari itu aku sangaatlah menyayangkan berbagai potensi masyarakat desaku ini.
Tapi Alhamdulillah, setidaknya sekarang para bpk" n ibuk" sudah mau mengikuti sholat jama'ah di Masjid ini. Masjid yang dulunya hanya sekedar pajangan yang hanya berisi segelintir orang kini sudah mulai penuh terisi.
Yaahh kembali lagilah ke soal pendidikan, mereka semua itu sebenarnya mampu menyekolahkan anak"nya sampai ke perguruan tinggi. Hanya saja kesadaran. Bolak balik kesadaran yang harus ditanamkan. Ya Robby.. Tolonglah masyarakat desaku ini.. Aamiin...
Comments
Post a Comment